WHO Menyatakan Darurat Kesehatan Global Cacar Monyet, Kemenkes Bersiap Menghadapi Cacar Monyet

Cetak

cacar monyet

Cacar monyet, mungkin ada yang belum tahu kalau penyakit ini sebenarnya bukan penyakit baru. Cacar monyet sudah ditemukan sejak tahun 1958 dan diketahui disebabkan oleh virus Monkeypox yang bermula dari hewan pengerat dan primata, seperti monyet dan tupai. Cacar monyet sendiri disebabkan oleh virus human monkeypox (MPXV) orthopoxvirus dari famili poxviridae yang bersifat highlipatogenik atau zoonosis. Virus Ini pertama kali ditemukan pada monyet di tahun 1958, sedangkan kasus pertama pada manusia (anak-anak) terjadi pada tahun 1970.

 

Cacar monyet dapat membuat penderitanya mengalami bintil bernanah di kulit, demam, lemas, menggigil, sakit kepala, nyeri otot, serta pembengkakan kelenjar getah bening. Nah, beberapa bulan yang lalu, beredar berita terkait melonjaknya kasus cacar monyet di benua biru, yakni Eropa. Kemudian kasus-kasus tersebut mulai terdeteksi pula di banyak negara lainnya.

Oleh karena itu, saat ini Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) telah menetapkan wabah cacar monyet sebagai keadaan darurat kesehatan global. Sebenarnya, cacar monyet diyakini memiliki peluang kesembuhan yang tinggi. Gejala yang muncul juga umumnya ringan, seperti yang sudah disebutkan sebelumnya dan dapat sembuh dengan sendirinya dalam 2-4 minggu.  Meski belum ditemukan ada di Indonesia, namun penyakit ini memang perlu diwaspadai penularannya. Sebab, sudah ada sekitar 16 ribu kasus dilaporkan dari 74 negara di berbagai belahan dunia.

Penularan banyak ditemukan pada orang yang melakukan kontak erat dengan hewan atau manusia yang terinfeksi atau benda yang terkontaminasi virus. Masa inkubasi cacar monyet biasanya 6 sampai 21 hari. Fase awal gejala yang terjadi pada 1 sampai 3 hari yaitu demam tinggi, sakit kepala hebat, limfadenopati atau pembengkakan kelenjar getah bening, nyeri punggung, nyeri otot, dan lemas. Pada fase erupsi atau fase paling infeksius terjadinya ruam atau lesi pada kulit biasanya dimulai dari wajah kemudian menyebar ke bagian tubuh lainnya. Secara bertahap mulai dari bintik merah seperti cacar makulopapula, lepuh berisi cairan bening (blister), lepuh berisi nanah (pustule), kemudian mengeras  atau keropeng lalu rontok.

Berikut ini adalah beberapa upaya yang saat ini tengah diberlakukan oleh pemerintah dalam mengantisipasi penyebaran cacar monyet di Indonesia, diantaranya adalah:

Dengan menerapkan beberapa hal diatas, diharapkan mampu meminimalisir kemungkinan tersebarnya kasus cacar monyet di tengah masyarakat Indonesia. Upaya tersebut diharapkan mampu mencegah penyakit cacar monyet masuk dan menyebar di tengah masyarakat Indonesia. Upaya Pencegahan dalam menghadapi potensi penyebaran ditengah masyarakat, pemerintah memberikan himbauan untuk menerapkan pola hidup bersih seperti menggunakan masker, mencuci tangan dengan sabun, dan menghindar dari kerumunan, segera lakukan pemeriksaan ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat apabila mengalami gejala cacar monyet agar bisa segera mendapatkan diagnosa dan penanganan secara cepat dan tepat.

Oleh karena itu, sebagai upaya perlindungan diri, terapkanlah beberapa langkah pencegahan cacar monyet seperti :

Lalu, jika kamu memiliki hewan peliharaan yang diduga terinfeksi virus cacar monyet, seperti demam, batuk, mata merah, hidung berair, hilang nafsu makan, ruam atau bintik merah di kulit, serta bulu rontok, segeralah bawa ke dokter hewan. (MH)

Click to listen highlighted text! Powered By GSpeech